Apa saja?Bisa!

Fotografi adalah seni melukis cahaya, karena termasuk kedalam lingkup seni yang mendorong seseorang bebas mengekspresikan diri namun tentu saja tetap dalam batas kewajaran. Begitu pula kalau kita membahas masalah Wedding Photography ataupun Pre Wedding Photography. Kita pun bebas melakukannya dimana saja, kapan saja, dan dengan pakaian apa saja.

Banyak orang beranggapan kalau setiap sesi pemotretan pre wedding harus tampil luar biasa dan bahkan kadang agak berlebihan. Bagi orang yang berkantong tebal tidak masalah bila menumpuk kostum baru dari berbagai butik di meja kasir, namun untuk orang yang berkantong tidak begitu tebal kadang muncul kekhawatiran karena tidak memiliki wardrobe yang pantas. Nah..apa yang menyebabkan sebuah kotum pantas dan tidak pantas. Jawabannya ada pada diri masing-masing.

Untuk sebuah pre wedding yang berkesan tidak hanya di ukur dari sebuah kostum yang glamor, atau make-up yang keren. Tapi juga di ukur dari berbagai factor seperti lokasi, konsep, waktu yang tepat, jam terbang sang fotografer, dan tentu saja kekreatifitasan  sang fotografer didalam mengolah gaya, mengarahkan frame, dan menekan tombol sutter disaat yang tepat.

Prewedding bisa saja dilakukan hanya memakai celana pendek dan baju kaos biasa yang dipakai sehari-sehari. Hanya dengan pakaian seperti itu pun kita bisa melakukan sesi foto yang tidak kalah unik dan menarik seperti mereka yang berdandan super mahal dan super glamour. Yang diperlukan adalah sebuah kreatifitas dan ketepatan sang fotografer dalam memilih moment dan pencahayaan.

Sahabat Dari Jerman

Persahabatan adalah hal yang penting buat kita semua. Dengan bertambahnya sahabat akan menambah warna dalam hidup ini. Sahabat juga menjadi tempat berbagi dan pihak yang mengerti akan diri kita. Sahabat juga akan setia mendukung kita kearah positif dan mencegah kita ke langkah negatif.

Pagi itu, ketika iseng online saya menemukan suatu pesan dari sahabat lama. Seorang sahabat dari Jerman tiba-tiba mengirim pesan di account facebook saya. Ia mengabarkan akan berlibur ke Bali bersama sang pacar. Senang rasanya ada orang yang mengingat keberadaan kita meskipun ia dari belahan benua yang bermil-mil jauhnya.

Max namanya, ia adalah pemuda bule yang sempat berkuliah di Universitas yang sama 3 tahun lalu. Melalui sistem beasiswa yang diperolehnya karena memiliki nilai studi yang bagus di Jerman, menggiring ia datang ke Bali untuk mempelajari adat budaya orang Bali.

Dengan bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar ia dengan percaya diri membuka pergaulan dengan mahasiswa lain di kampus termasuk saya. Niatnya untuk belajar memang saya acungi jempol. Ia berusaha berbahasa Indonesia setiap hari walau bahasanya masih kocar- kacir. Hebatnya ia bahkan nyeletuk dengan bahasa Bali sesekali. Meskipun amburadul, tapi lebih baik ketimbang saya, karena saya sendiri belum lancar berbahasa inggris apalagi berbahasa Jerman.

Jumat kemarin ia sampai di Bali, tapi baru senin pagi sempat bertemu. Walau cuma berada di Bali 6 bulan dan itu sudah 3 tahun yang lalu, tapi ia berani berkendara sendiri dengan sepeda motor untuk pergi kemana-mana dengan pacarnya. Berbekal peta pariwisata mereka menjelajah pulau yang mungil ini. Itulah orang bule, nekat tapi membuat mereka mandiri dan sukses.

Setelah sempat ngobrol dengan bahasa campuran di hari sebelumnya, kami sepakat untuk berkunjung ke kampung halaman saya di Tabanan. Keran suatu kebetulan saat itu ada upacara yang mungkin menarik untuk mereka saksikan. Dan tentu saja, ia sangat senang sekali melihat proses upacara terutama sang pacar Isabel yang kali pertama berkunjung ke Bali. Meski matahari begitu terik dengan duhu berlipat-lipat dari Negara asalnya mereka antusias meyaksikan upacara Galungan yang disertai pawai Barong keliling kampung. Dengan peluh dan mata sipit karena silau mereka tersenyum girang dan sesekali nyeletuk kepada saya bahwa mereka beruntung bisa turut bersama saya. “bagus arya, menarik sekali!!”, ujar max.

Setelah itu kami berkeliling disekitar kebun keluarga yang menghadap ke perbukitan hijau, masuk ke tengah kebun sayur dan bunga gumitir, memetik buah coklat ( kakao) yang belum pernah mereka lihat apalagi merasakan manisnya biji kakao asli dari pohon. Di sela-sela perjalanan kami pun sempat melakukan sesi pemotretan seadanya sebagai kenang-kengan untuk ia boyong ke Jerman. Wah senangya, meski cukup letih seharian menjadi penterjemah dan penunjuk arah dadakan tapi terbayar kontan dengan kegembiraan Max dan Isabel, sahabat dari Jerman.

Rice Field in tabanan

Rice Field

in the "Gumitir" Flower field